Saturday, October 30, 2004

Seincip Coklat

Fia menangis kencang, berlari menuju sang ayah yg sedang berbuka puasa disudut hall. Sang ayah pun kebingungan menenangkan si buah hati, apalagi bunda fia tak ikut hadir acara ini. Sang ayah makin bingung melihat tangis fia makin kencang sambil menunjuk seorang gadis kecil berjilbab kuning. Mungkin sang ayah berpikir bahwa si gadis jilbab kuning abis ngejahilin fia. ternyata dugaan sang ayah keliru terbukti fia marah dan mengencang tangisnya..

Dari pojok lain aku perhatikan, penasaran dengan apa yg diinginkan fia..perasaan tadi dia tak bertengkar dengan siapapun. asyiik bermain dengan anak-anak lain sedari siang. Dan apa yang terjadi? dia menunjuk sesuatu yg dibawa Sanah sebatang permen coklat. Kontan saja sang ayah makin bingung, beli coklat dimana? tempat buka lumayan jauh dari toko dan kalopun ada kombini gak semua coklat halal dikonsumsi...semakin susah saat coklat tinggal seujung dimulut Sanah.

melihat itu ibu sanah punya akal, segera dia membujuk sanah tuk memberi seincip coklat. Sanah tidak mau. dia berlari menjauh,..sementara fia menunggu sambil menangis pengin dalam genggaman ayahnya.

Akhirnya seincip coklatpun mampir di mulut fia. sedetika kemudian semua kembali normal..bergembira, tertawa...aku geleng-geleng kepala. Anak-anak itu selalu bisa cepat melupakan segala yg telah terjadi. kalo orang dewasa susah ya?..:)

kaikan 30 okto , usai daurah quran

0 Comments:

Post a Comment

<< Home