Entah kesedihan yang bagaimana tergambar jelas pada wajah-wajah orang yg terkena musibah jisin itu. Harta benda, orang kesayanganpun mungkin harus mereka ikhlaskan pergi saat tiada kekuatan menghalangi. Ketika takdir bicara. Yah..bencana musibah adalah bagian cobaan hidup. Tergantung bagaimana kita bisa arif menyikapinya. mau berputus asa ataukah tetap berjalan dengan hati tegak menerima segala ketentuanNya.
Mungkin ini pula yang harus dihadapi orang-orang jepang di wilayah Nigata khususnya nagaoka yang menjadi titik sentral jisin. Jisin dengan skala 6.7 richter mengguncang hebat sekitar dua minggu lalu, memporak porandakan segalanya, rumah, jembatan, serta bangunan apasaja bahkan tanah terguncang karena jisin. bahkan ada yang terjebak di antara bebatuan yang longsor. seorang ibu dan dua anaknya berhasil dievakuasi setelah tim SAR berusaha sekuat tenaga menyelamatkan mereka. Alhamdulillah ibu dan anaknya selamat, meski akhirnya salah seorang dari anaknya meninggal. Semua orang menyaksikan detik-detik evakuasi dengan tegang. Ada tangis harus mewarnai mereka. Akpun juga tak tahan menahan haru.
Juga saat evakuasi di aderah terpencil, para orang-orang tua terpaksa harus meninggalkan rumah mereka yang telah porak poranda, dengan hati pedih.
Dan aku baru menyadari bahwa diantara mereka ada saudara yang sedang ada disana. Ada banyak keluarga yang sedang menuntut ilmu di daerah Nigata. Namun alhamdulillah bantuan yang cepat dari KBRI tokyo bisa meringankan mereka. berikut kabar yang kuterima dimilis
Assalamualaikum rekan2x Klurahan..
Saya Donny yg sebelum ini menyampaikan laporan kondisi Nagaoka.
Seperti yang mungkin sudah sampai ke rekan2x klurahan semua, 2 hari
yang lalu, skitar jam 10 pagi, ada gempa susulan yg skala-nya hampir
sebesar gempa pertama di Nagaoka. Perlu diketahui, ternyata hampir
setiap hari ada gempa berskala lebih dari 5 di Nagaoka, dan hal ini
sepertinya bener2x membuat rekan2x di Nagaoka cukup tertekan. Semalam
saya berhasil mengontak Ardian (B3, Elektro@Kaikan), dan ternyata
kemarin pagi, rombongan 3 mobil (Pak Dikky, Pak Fajar dan Pak Handri)
meninggalkan Nagaoka dan bermalam di Niigata sejak kemarin. Tpatnya,
Pak Dikky cs (tmasuk Ardian) ditampung di tempat Pak Didi@Niigata
Dai.
Mnurut Ardian juga, sampai semalam masih lebih banyak warga kelurahan
yg tinggal di Nagaoka, dan kemungkinan hari ini rombongan kemarin
juga akan kembali lagi ke Nagaoka.
Kabar2x lain yg saya dengar, orang2x Malaysia kebanyakan masih
bertahan di Koryuukaikan. Dalam arti, aktivitas siang (masak dan
makan) dilakukan di dalam kaikan, dan tidur/istirahat di mobil.
Kmarin sempat saya tanyakan juga ke Ardian, karena kebetulan dia
sudah start nyangkul di Echigo seika. Kondisi Mesin2x di Nakamura Lab
ksayangan warga klurahan bisa dibilang rusak berat, dan kojo skarang
ditutup sampai waktu yang belum ditentukan. bagi yang memungkinkan, info resmi about perkembangan kondisi daerah bencana niigata, bisa dilihat dihttp://saigai.pref.niigata.jp/content/jishin/jishin_1.html
Banyak yg bisa diketahui dari site tersebut, misalnya:akses angkutan
Umum paling memungkinkan dari Tokyo, hanya 1, yaitu kosoku bus, dan
itupun harus berputar melalui Fukushima Ken (ban-etsu jidoshado)
Ardian jg crita, Pak Fajar sempet berniat trus mengungsi sampai
Tokyo, tapi terhalang karena banyak jalan ditutup.
Mari kita doakan rekan2x klurahan yg masih berjuang di Nagaoka tuk
tetap sabar dan dimudahkan kondisinya lahir n bathin, sebab dari
crita Ardian semalam dan dari kenyataan ada orang Jepang yang meninggal
karena stress berkepanjangan (ada jg yg meninggal karena sindrom lama
tinggal di mobil), sepertinya kondisi yg berkepanjangan ini benar2x
membuat stress.
Mohon Maaf kalau imel saya kepanjangan, berhubung saya blum diizinkan
ke Nagaoka oleh kacho, mungkin baru ini yg bisa dari saya tuk bantu
rekan2x smua...
Wassalamualaykum Wr. Wb.
Donny
Nagaoka Gidai-B4@Toyohashi
* di evacuation centre, antri toilet 20 menit, dan makanan tiap hari
cuma onigiri n misoshiru ^^; datte saaa...., ardian tachi jg sempet
tidur di mobil Pak Makbul, dibagasinya datte..*
====
dikky burhan <dikky@s...> wrote:
Seperti yang dijelaskan Sdr. Donny, sedikit ingin saya tambahkan tentang keadaan kami di sini. Kejadian berawal dari hari Sabtu sore jam 18 an, pada saat itu saya berada di laboratorium lantai 4 gedung mechanical nagaoka university of technology.
Tiba-tiba gempa berskala 6 besar (1 level di bawah gempa kobe 1996)
terjadi, meja, kursi, komputer, printer dan semua peralatan lab
berjatuhan. Saya masuk ke kolong meja studi saya untuk menghindari timpahan barang-
barang tersebut. Pada saat saya pikir saya akan mati, karena lampu mendadak
mati.Ketika keluar dari kolong meja, saya berusaha berlari ke emergency
exit,tapi karena terhalang barang-barang yang jatuh, rasanya jauuuhhh
sekali,akhirnya saya bisa sampai ke lantai bawah dalam waktu 10 menit.
Sesampainya di lantai satu gempa berskala 6 berulang 2 x dan gempa berskala 5
kurang lebih 10 x. Gedung-gedung bergetar, lampu jalan mengayun, orang-orang
berlarian panik ke lapangan parkir. Hari itu benar-bener mencekam,
semua telekomunikasi terputus termasuk telpon cellular.
Setelah dihantam gempa berkali-kali, gempa agak mereda pada pukul
20.00 malam, saya berhasil mengumpulkan teman-teman PPI Nagaoka di
International House. Setibanya di sana, saya lihat teman-teman PPI Nagaoka bersama
foreign student dari malaysia, vietnam, thailand, china, etc. sudah menggelar
selimut di lapangan parkir international house. Saya lihat anak-anak kecil
kedinginan duduk di bawah tanah, suhu pada malam hari di Nagaoka
sekitar 12 C. Setelah itu saya pergi ke apartment saya.Secara kebetulan lokasinya berada di daerah 'Life Line', jalur khusus yang dianggap aman, hanya
pada jalur ini air, listrik dan gas disupply dari sentral. Mulai hari
Sabtu itu semua anggota PPI Nagaoka (20 Dewasa 10 anak-anak) berkumpul
diapartment saya untuk mendapatkan supply air, gas dan listrik. Seperti yg
dijelaskan Sdr. Donny, pada bulan puasa kita buka bersama, dan saur bersama
dalam suasana gempa yang mencekam. Pada hari Minggu, Senin dan Selasa,
total gempa yang melewati Nagaoka sudah mencapai 400 kali dengan skala 5, 4
minimal 3 (sudah tidak terhitung). Pada hari Rabu pagi jam 10.30, terjadi lagi
gempa berskala 6, pada saat itu semua warga yang tinggal di aparment saya
mulai pindah ke evacuation center.
Pada saat ini saya sudah kembali ke Nagaoka, setelah membeli stock
supply daging, sosis halal. Karena kota Nagaoka lumpuh oleh gempa, semua
supermarket, dan dept. store tutup, kalaupun buka, sudah tidak ada
makanan lagi apalagi daging segar. Jalur transportasi Tokyo-Niigata terputus,
shinkansen pun loncat dari relnya (pertama kali sejak dibangun).
Korban gempa sudah 2000 ribuan rumah rusak/hilang, 100 ribu orang mengungsi
termasuk kami, 37 korban meninggal dan 900 san orang luka-luka.
Jalan-jalan retak dan di sana-sini banyak lubang, beberapa jalan bahkan hilang.
Pada hari Jumat ini, saya menerima supply dari KBRI Tokyo berupa
indomie, kornet, makanan bayi, bumbu masak, etc. Dan sudah saya bagikan
kepada teman-teman di sini. Sementara, setelah pasca gempa di sini, keadaan
mulai berangsur-angsur pulih, tapi masih dianjurkan untuk tidur di
evacuation center dan tidak tidur sendirian. Pada saat ini suhu di nagaoka di
malam hari sekitar 2 hingga 4 derajad, siang 12-16 derajad, pada
kesempatan ini juga saya ingin mengucapkan terima kasih atas bantuan dari Atasse
Pendidikan dan Kebudayaan Pak Sigit Anggoro atas bantuan dan action yang cepat
setelah laporan tersebut.
Demikian sekilas informasi gempa, kami sekarang lelah karena harus
terus menerus menjaga keluarga, dan keluar masuk rumah pada saat gempa
terjadi(kalo 1 kali sih enak, ini ratusan kali, cape juga). Tapi mulai hari
ini,kami belum berani kembali ke apartment masing-masing, takut
datangnya gempa
susulan.
Saya mohon doa restu dari teman-teman pada bulan puasa ini, untuk
memohon kepadaNya, agar kami para pelajar di Nagaoka, istri dan anak-anak
kami disini, dikuatkan mental, ditabahkan dan bisa melewati hari-hari pasca
gempa di Nagaoka. Karena kesibukan kami di sini, untuk bantuan terutama
baju hangat dan makanan halal, kami sepakat untuk menyerahkan koordinasi
ke KBRI-Tokyo, (education@i...).
Mohon juga sampaikan kepada keluarga kami di Indonesia, kalau gempa
diNagaoka TIDAK ada korban jiwa ataupuan luka, hanya barang-barang
hancur,tidak ada makanan dan air. Untuk teman-teman PPI Nagaoka,
gambarimashou,kalau kita tabah, dan berdoa, kita pasti bisa melewati semua ini,
masih belum, masih sedikit lagi...kuatkan mental kita, jangan
menyerah...mari perkuat tali persaudaraan kita.
Ya Tuhan, lewatkanlah cobaan ini..., berikan kami kesempatan utk
memperbaiki semuanya sekali lagi.
Dikky Burhan
Graduate Student Nagaoka University of Technology
Mechanical Engineering Dept.
Material Engineering Doctorate Course
dikky@s...
Masih banyak cerita yang ingin kutulis, termasuk seorang kakek tua yang berada dalam reruntuhan rumahnya. membangun kembali banyak makan biaya karena diperkirakan sebuah rumah menghabiskan sekitar 80-160 juta rupiah, meski pemerintah jepang akan membantu sekitar 50 juta, tetap saja mereka bertanya "darimana mendapat uang sisanya?" Namun kemudian dengan semngat dia berkata "Boku wa akiramei! Gambarimasu!" Demikian juga orang-orang yang lain. kalaupun ada kesedihan adalah suatu hal yang wajar. Ini bencana, dalam sedih harus pula ada harapan dan semangat.
kaikan 5 novo